Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, berlangsung khidmat sekaligus sarat kajian keislaman. Dalam kegiatan yang digelar di Auditorium Ar Rochmah, Sabtu (3/10/2026), KH Ma’ruf Khozin memaparkan sejumlah dalil yang menjadi landasan amaliyah keagamaan yang selama ini diamalkan masyarakat Nahdlatul Ulama (Nahdliyin).
Kegiatan tersebut dihadiri Pengasuh KH. A. Hamid Mannan Munif dan Majelis Keluarga Pondok Pesantren Nasyrul Ulum, Pengurus PCNU Sumenep, Forkopimka Kecamatan Bluto, wali santri, serta para santri.
Di hadapan jamaah, KH Ma’ruf Khozin menjelaskan bahwa berbagai amaliyah yang telah menjadi tradisi keagamaan masyarakat Nahdliyin bukanlah praktik yang muncul tanpa landasan. Menurutnya, terdapat dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadis, atsar sahabat, serta penjelasan para ulama yang menjadi pijakan dalam pelaksanaan berbagai amaliyah tersebut.
“Amaliyah yang biasa dilakukan masyarakat itu ada dalilnya. Para ulama tidak mengamalkan sesuatu tanpa dasar. Dalil-dalil tersebut kemudian dihimpun, dijelaskan dan dikaji oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka,” demikian garis besar penjelasan KH Ma’ruf Khozin dalam kajiannya.
Ia menerangkan bahwa dalam memahami amaliyah, masyarakat tidak cukup hanya mencari apakah suatu bentuk kegiatan pernah dilakukan secara persis oleh Rasulullah SAW. Para ulama juga menggunakan metode istinbath, termasuk qiyas, untuk menemukan hukum terhadap suatu bentuk amaliyah yang berkembang kemudian. Penjelasan mengenai metode tersebut juga pernah disampaikan KH Ma’ruf Khozin dalam kajian tentang dalil Maulid Nabi. KH Ma’ruf Khozin sendiri dikenal aktif menjelaskan dalil-dalil amaliyah Aswaja. Dalam karya dan kajiannya, pembahasan tersebut mencakup berbagai praktik keagamaan Nahdliyin, termasuk Maulid Nabi, shalawatan dan mahallul qiyam.
Yang menarik, penyampaian KH Ma’ruf Khozin tidak hanya dilakukan secara lisan. Sejumlah dalil dan rujukan kitab ditampilkan melalui layar proyektor sehingga jamaah dapat mengikuti langsung sumber yang sedang dijelaskan. Sesekali KH Ma’ruf Khozin menunjukkan teks Arab dari kitab klasik, kemudian menjelaskan kandungan dan konteksnya kepada jamaah. Cara penyampaian tersebut membuat kajian terasa lebih hidup karena masyarakat tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga dapat melihat rujukan yang menjadi dasar argumentasi.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya merujuk kepada karya para ulama dalam memahami amaliyah keagamaan. Menurutnya, khazanah keilmuan Islam telah menyediakan pembahasan yang luas mengenai berbagai praktik ibadah dan tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Paparan berbasis dalil tersebut mendapat perhatian besar dari jamaah. Para santri, wali santri dan masyarakat yang hadir tampak antusias mengikuti penjelasan, terutama ketika teks-teks kitab klasik ditampilkan melalui proyektor.
Suasana semakin menarik ketika KH Ma’ruf Khozin mengajak jamaah melihat langsung bagaimana para ulama membangun argumentasi dalam persoalan amaliyah. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan disertai tampilan referensi kitab, kajian tidak hanya menjadi momentum peringatan Maulid, tetapi juga ruang belajar untuk memahami tradisi keagamaan Nahdliyin secara lebih mendalam.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penguatan bagi generasi santri agar tidak hanya menjalankan amaliyah yang diwariskan para ulama, tetapi juga memahami dasar-dasar keilmuannya.
Melalui kajian tersebut, peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Nasyrul Ulum tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi sarana memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mengenalkan khazanah keilmuan ulama Ahlussunnah wal Jamaah kepada para santri dan masyarakat.